Manchester City 2-4 PSG: Haaland Cetak Rekor, tetapi Sang Juara Eropa Mengamuk di Etihad

Manchester City 2-4 PSG: Haaland Cetak Rekor, tetapi Sang Juara Eropa Mengamuk di Etihad

Paris Saint-Germain memperlihatkan mengapa mereka masih menjadi salah satu tim paling menakutkan di Eropa. Bertandang ke markas Manchester City pada lanjutan fase liga Liga Champions 2026–2027, PSG membawa pulang kemenangan spektakuler dengan skor 4–2.

Tim asuhan Luis Enrique tampil luar biasa pada babak pertama dan mencetak tiga gol hanya dalam waktu 32 menit. Désiré Doué, Ousmane Dembélé, dan Vitinha membuat Stadion Etihad terdiam sebelum Manchester City sempat memberikan perlawanan.

Erling Haaland mencetak dua gol pada babak kedua sekaligus menorehkan beberapa rekor baru. Namun, Maghnes Akliouche turut mencetak gol untuk memastikan PSG tetap berada di depan dan menggagalkan kebangkitan tuan rumah.

Hasil tersebut menjadi kekalahan pertama Manchester City di bawah arahan Enzo Maresca. Bagi PSG, kemenangan ini menjadi pernyataan tegas bahwa mereka masih memiliki kualitas untuk mempertahankan status sebagai kekuatan utama Liga Champions.

PSG Menghancurkan Manchester City pada Babak Pertama

Manchester City sebenarnya memulai pertandingan dengan cukup positif. Bermain di hadapan 60.021 penonton, tuan rumah berusaha mengambil kendali melalui penguasaan bola dan tekanan tinggi.

Namun, PSG tidak membutuhkan waktu lama untuk membaca permainan City. Tim tamu melewati tekanan pertama dengan umpan-umpan cepat, kemudian menyerang ruang kosong yang ditinggalkan para pemain tuan rumah.

PSG mulai mengendalikan pertandingan setelah memasuki menit ke-13. Pergerakan para pemain depan mereka membuat lini pertahanan City kesulitan menentukan kapan harus maju dan kapan harus mundur.

Dua gol dalam waktu dua menit kemudian mengubah pertandingan secara total. City yang sebelumnya terlihat cukup nyaman mendadak kehilangan keseimbangan, sedangkan PSG semakin percaya diri memainkan sepak bola menyerang.

Désiré Doué Membuka Keunggulan PSG

Gol pertama PSG tercipta pada menit ke-13 melalui rangkaian permainan yang sangat rapi. Tim tamu mengalirkan bola dari satu sisi ke sisi lain sebelum menemukan ruang di pertahanan Manchester City.

Désiré Doué menyelesaikan serangan tersebut dengan tembakan rendah dari tepi kotak penalti. Bola meluncur melewati Gianluigi Donnarumma dan membawa PSG unggul 1–0.

Gol itu menjadi gambaran dari pendekatan PSG. Mereka tidak memaksakan serangan, melainkan menunggu City kehilangan bentuk sebelum mempercepat aliran bola.

Doué tidak hanya menjadi pencetak gol. Pergerakannya juga terus menciptakan masalah karena ia mampu berpindah posisi, masuk ke area tengah, dan bekerja sama dengan Ousmane Dembélé.

Ousmane Dembélé Menggandakan Keunggulan

Manchester City belum sempat pulih ketika PSG kembali mencetak gol pada menit ke-15.

Kali ini Doué berperan sebagai pemberi umpan. Ia mengirimkan bola menuju tiang jauh yang disambut Dembélé dengan sundulan.

Donnarumma tidak mampu menghentikan bola tersebut. Dalam waktu hanya dua menit, PSG telah membangun keunggulan 2–0 di markas pemuncak klasemen Premier League.

Gol kedua memberikan pukulan besar kepada kepercayaan diri City. Para pemain tuan rumah mulai kehilangan ketenangan ketika membangun serangan, sementara PSG semakin agresif mengejar gol berikutnya.

Dembélé menunjukkan bahwa ancamannya tidak hanya berasal dari kemampuan menggiring bola. Pergerakan tanpa bola dan keberaniannya memasuki kotak penalti membuat pertahanan City semakin sulit mengawalnya.

Vitinha Menutup Pertunjukan Babak Pertama

PSG hampir menambah keunggulan pada menit ke-31. Achraf Hakimi mendapatkan kesempatan melalui serangan cepat, tetapi bola hasil sundulannya membentur tiang gawang.

Manchester City hanya mendapatkan waktu singkat untuk bernapas. Satu menit kemudian, PSG benar-benar mencetak gol ketiga.

Warren Zaïre-Emery mengirimkan umpan tumit cerdas yang membuka pertahanan City. Vitinha kemudian menyelesaikannya dengan tenang untuk membawa tim tamu unggul 3–0 pada menit ke-32.

Gol tersebut menjadi puncak dari dominasi PSG pada babak pertama. Mereka tampil cepat, akurat, dan sangat efisien ketika memasuki area pertahanan lawan.

Vitinha juga berperan besar dalam mengontrol lini tengah. Ia membantu PSG keluar dari tekanan, menentukan arah serangan, dan menjaga tempo permainan sesuai kebutuhan timnya.

Penampilan tersebut membuat Vitinha terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan versi UEFA.

Manchester City Kesulitan Menemukan Keseimbangan

Masalah utama City pada babak pertama bukan sekadar pertahanan individual. Struktur permainan mereka terlalu mudah dibuka ketika kehilangan bola.

City mendorong banyak pemain ke depan untuk menekan PSG. Namun, tekanan tersebut tidak selalu dilakukan secara bersamaan sehingga memberikan ruang bagi tim tamu untuk memainkan umpan vertikal.

Ketika PSG berhasil melewati gelombang tekanan pertama, para pemain depan mereka langsung berhadapan dengan lini belakang City yang tidak mendapatkan perlindungan cukup.

Marc Guéhi dan Rúben Dias menghadapi situasi yang sangat sulit. Mereka harus mengawasi pergerakan Dembélé dan Doué sekaligus menutup ruang yang muncul di depan kotak penalti.

City sebenarnya mempunyai beberapa kesempatan untuk memperkecil ketertinggalan. Joško Gvardiol menyundul bola tipis melebar, sedangkan tembakan Jérémy Doku masih mampu dihentikan Matvey Safonov.

Namun, hingga turun minum, City tetap tertinggal 0–3. Penampilan tersebut sangat berbeda dari performa mereka ketika mengalahkan Liverpool 3–0 di Premier League beberapa hari sebelumnya.

Enzo Maresca Melakukan Tiga Pergantian Pemain

Enzo Maresca merespons penampilan buruk timnya dengan melakukan tiga pergantian pemain pada awal babak kedua.

Rúben Dias, Rayan Cherki, dan Jérémy Doku ditarik keluar. Matheus Nunes, Ayyoub Bouaddi, dan Iliman Ndiaye mendapatkan kesempatan untuk mengubah jalannya pertandingan.

Perubahan tersebut langsung memberikan dampak. City bermain dengan tempo yang jauh lebih cepat dan mulai menekan PSG lebih dekat dengan area penalti.

Ndiaye memberikan tenaga serta keberanian dalam melakukan penetrasi. Bouaddi membantu mengalirkan bola lebih cepat, sedangkan pemain City lainnya mulai memenangi lebih banyak duel.

Manchester City terlihat seperti tim yang berbeda. Mereka tidak lagi membiarkan PSG mengontrol tempo dan mulai menciptakan peluang secara beruntun.

Erling Haaland Memulai Upaya Kebangkitan

Tekanan Manchester City akhirnya menghasilkan gol pada menit ke-53.

Iliman Ndiaye bergerak menuju sisi pertahanan PSG dan mengirimkan umpan berbahaya ke depan gawang. Erling Haaland membaca arah bola dengan sempurna dan menyambutnya menggunakan sundulan.

Gol tersebut mengubah skor menjadi 1–3 dan menghidupkan kembali atmosfer Stadion Etihad.

Para pemain City semakin percaya bahwa mereka dapat mengejar ketertinggalan. PSG mulai dipaksa bertahan lebih dalam, sedangkan Safonov harus bekerja keras menjaga gawangnya.

Haaland kembali memperlihatkan kemampuan terbaiknya sebagai penyerang tengah. Ia tidak membutuhkan banyak sentuhan untuk menciptakan ancaman dan terus berada di posisi yang tepat ketika bola memasuki kotak penalti.

Akliouche Mematahkan Momentum Manchester City

Ketika City terlihat semakin dekat dengan gol kedua, PSG justru kembali memberikan pukulan telak.

Maghnes Akliouche menerima bola di luar kotak penalti pada menit ke-62. Ia kemudian melepaskan tembakan dari jarak sekitar 20 meter.

Donnarumma gagal menghentikan bola tersebut. Gol Akliouche membawa PSG kembali menjauh dengan skor 4–1.

Gol itu terasa sangat penting karena merupakan tembakan pertama PSG pada babak kedua. City telah menghabiskan banyak energi untuk menekan, tetapi PSG hanya membutuhkan satu kesempatan untuk kembali mencetak gol.

Momen tersebut menunjukkan perbedaan efektivitas kedua tim. Manchester City menciptakan banyak peluang, sedangkan PSG mampu mengubah kesempatan yang lebih sedikit menjadi gol.

Haaland Mencetak Gol Kedua

Manchester City tidak berhenti menyerang setelah tertinggal tiga gol untuk kedua kalinya.

Enzo Fernández melepaskan tembakan yang mengenai pertemuan tiang dan mistar. Haaland juga sempat mengarahkan bola ke bagian atas mistar gawang.

Gol kedua City akhirnya tercipta pada menit ke-75. Ayyoub Bouaddi mengirimkan umpan rendah ke depan gawang dan Haaland menyelesaikannya untuk mengubah skor menjadi 2–4.

Gol tersebut membuat City kembali percaya bahwa pertandingan belum sepenuhnya berakhir. Dengan waktu sekitar 15 menit, mereka hanya membutuhkan satu gol lagi untuk memberikan tekanan besar kepada PSG.

Haaland hampir melengkapi hat-trick pada menit ke-83. Namun, Safonov melakukan penyelamatan penting untuk mencegah skor berubah menjadi 3–4.

PSG Bertahan dari Tekanan Terakhir City

Menjelang pertandingan berakhir, Manchester City mengirimkan hampir seluruh pemainnya ke area pertahanan PSG.

Gvardiol mempunyai kesempatan melalui sundulan, tetapi Nuno Mendes melakukan penyelamatan di garis gawang. Safonov juga tampil sigap menghadapi gelombang serangan tuan rumah.

City kemudian memperoleh penalti pada fase akhir pertandingan. Ferran Torres mendapatkan kesempatan menghadapi Donnarumma, mantan rekan setimnya di PSG yang kini menjaga gawang Manchester City.

Namun, Donnarumma mampu menggagalkan eksekusi tersebut. Penyelamatan itu menjaga harapan City untuk melakukan keajaiban, tetapi waktu yang tersisa tidak cukup untuk mencetak dua gol tambahan.

PSG akhirnya mempertahankan keunggulan 4–2 hingga peluit panjang dibunyikan.

Meskipun terus berada di bawah tekanan pada babak kedua, tim asuhan Luis Enrique menunjukkan ketenangan yang dibutuhkan untuk memenangkan pertandingan besar.

Erling Haaland Menciptakan Sejarah Baru

Kekalahan Manchester City tidak menghilangkan arti besar dari dua gol Erling Haaland.

Gol pertamanya membuat Haaland melewati Sergio Agüero sebagai pencetak gol terbanyak Manchester City di Liga Champions. Haaland kini mempunyai 38 gol dalam 41 pertandingan Liga Champions bersama City, sedangkan Agüero mencatatkan 36 gol pada babak utama kompetisi.

Secara keseluruhan, Haaland telah mencetak 61 gol dalam 60 penampilan Liga Champions bersama RB Salzburg, Borussia Dortmund, dan Manchester City.

Ia menjadi pemain tercepat yang mencapai 60 gol di kompetisi tersebut. Haaland melakukannya dalam 60 pertandingan, atau 20 laga lebih cepat dibandingkan Lionel Messi.

Penyerang asal Norwegia itu juga telah mengoleksi 10 gol dalam sembilan pertandingan di semua kompetisi pada awal musim 2026–2027.

Catatan tersebut memperlihatkan betapa luar biasanya produktivitas Haaland. Bahkan ketika Manchester City mengalami malam yang buruk, ia tetap mampu mencetak dua gol melawan salah satu pertahanan terbaik di Eropa.

PSG Menang karena Jauh Lebih Efektif

Statistik pertandingan memperlihatkan bahwa Manchester City menciptakan lebih banyak serangan. Mereka menyelesaikan laga dengan hampir dua kali lipat jumlah tembakan PSG dan sekitar tiga kali lebih banyak sentuhan di dalam kotak penalti lawan.

City juga mencatatkan angka expected goals yang lebih tinggi. Namun, mereka tidak mampu mengubah dominasi tersebut menjadi hasil.

PSG memperlihatkan efektivitas yang lebih baik. Empat gol mereka berasal dari serangan yang dibangun dengan cepat dan diakhiri secara tenang.

Doué, Dembélé, Vitinha, dan Akliouche menjadi empat pencetak gol berbeda. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ancaman PSG tidak hanya bergantung pada seorang pemain.

Tim asal Prancis tersebut mempunyai gelandang yang mampu mengontrol permainan, pemain sayap yang agresif, serta bek sayap yang aktif membantu serangan.

Ketika City memberikan ruang, PSG menghukumnya. Ketika City meningkatkan tekanan, PSG tetap mampu bertahan dan menemukan kesempatan untuk mencetak gol keempat.

Vitinha Menjadi Pengendali Permainan

Vitinha merupakan salah satu pemain terpenting dalam kemenangan PSG. Selain mencetak gol ketiga, ia menjadi penghubung antara lini belakang dan lini serang.

Gelandang asal Portugal tersebut tetap tenang ketika menghadapi tekanan. Ia mampu melindungi bola, melepaskan umpan dari ruang sempit, dan membantu timnya mengendalikan pertandingan.

Vitinha juga memahami kapan harus memperlambat permainan dan kapan harus mempercepat serangan. Kemampuan tersebut sangat penting saat menghadapi tim yang mempunyai intensitas tinggi seperti Manchester City.

Penampilannya semakin lengkap dengan gol pada menit ke-32. Tidak mengherankan apabila UEFA memilihnya sebagai pemain terbaik pertandingan.

Kekalahan Pertama Enzo Maresca bersama City

Hasil ini menjadi kekalahan pertama Enzo Maresca sejak mengambil alih Manchester City.

Sebelum bertemu PSG, City belum terkalahkan dalam tujuh pertandingan di bawah kepemimpinannya. Mereka juga berada di puncak klasemen Premier League setelah memenangkan enam pertandingan pembuka.

Kekalahan dari PSG memperlihatkan bahwa proses perubahan di Manchester City belum selesai. Maresca telah membangun tim yang mampu menguasai bola dan menciptakan peluang, tetapi keseimbangan ketika kehilangan bola masih harus diperbaiki.

City terlalu mudah kehilangan struktur setelah kebobolan gol pertama. Dua gol cepat PSG menciptakan kepanikan yang kemudian berujung pada gol ketiga.

Maresca mengakui bahwa timnya tampil jauh lebih baik pada babak kedua dan menciptakan cukup banyak peluang untuk mendapatkan hasil. Namun, ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan tampil lebih klinis.

Kembalinya Pep Guardiola ke Stadion Etihad

Pertandingan ini juga menjadi momen emosional karena Pep Guardiola kembali hadir di Stadion Etihad untuk pertama kalinya sejak mengakhiri sepuluh tahun masa kepelatihannya bersama Manchester City.

Guardiola menyaksikan pertandingan dari tribun dan bertemu dengan sahabatnya, Luis Enrique, yang kini memimpin PSG.

Selama satu dekade bersama City, Guardiola membentuk salah satu tim paling dominan dalam sejarah sepak bola Inggris. Karena itu, kehadirannya mendapatkan perhatian besar dari para pendukung.

Namun, hasil pertandingan tidak berjalan sesuai harapan mantan pelatih City tersebut. Ia harus melihat PSG mengalahkan klub lamanya dengan sebuah penampilan menyerang yang mengesankan.

Kemenangan Luis Enrique juga menarik karena kedua pelatih mempunyai prinsip permainan yang serupa. Keduanya menekankan penguasaan bola, posisi pemain, tekanan tinggi, dan keberanian membangun serangan dari belakang.

Kemenangan Pertama PSG di Stadion Etihad

Hasil ini menjadi kemenangan pertama PSG di Stadion Etihad atau City of Manchester Stadium.

PSG sebelumnya mengalami beberapa hasil mengecewakan ketika bertandang ke markas Manchester City. Mereka pernah tersingkir dari semifinal Liga Champions 2020–2021 setelah kalah 0–2 di stadion tersebut.

Kemenangan 4–2 sekaligus menjadi pembalasan atas beberapa pertemuan sulit pada masa lalu.

PSG kini telah mengalahkan Manchester City dengan skor 4–2 dalam dua pertemuan Liga Champions terakhir mereka. Pada Januari 2025, PSG juga memenangkan pertandingan dengan skor yang sama di Paris.

Konsistensi tersebut memperlihatkan bahwa PSG semakin memahami cara menghadapi permainan City. Mereka tidak takut membiarkan lawan menguasai bola selama masih mampu menyerang ruang dengan efektif.

Dampak Hasil bagi Klasemen Liga Champions

Kemenangan di Manchester membawa PSG ke posisi teratas klasemen fase liga setelah dua pertandingan.

Les Parisiens memulai perjalanan mereka dengan menghancurkan Slovan Bratislava 6–1 sebelum mengalahkan Manchester City 4–2. Mereka telah mencetak sepuluh gol dalam dua pertandingan.

Manchester City turun ke posisi ke-17 dengan tiga poin. Mereka mencatatkan satu kemenangan dan satu kekalahan dengan selisih gol nol.

Format fase liga memberikan kesempatan kepada City untuk memperbaiki posisi dalam pertandingan berikutnya. Namun, hasil melawan PSG menunjukkan bahwa persaingan untuk lolos langsung ke babak 16 besar akan sangat ketat.

Setiap poin dan selisih gol mempunyai pengaruh besar. City tidak dapat mengulangi penampilan babak pertama jika ingin finis di delapan besar.

Apa yang Harus Diperbaiki Manchester City?

Menjaga Keseimbangan ketika Menyerang

City terlalu mudah terbuka ketika kehilangan bola. Para gelandang dan bek sayap harus memastikan bahwa masih terdapat perlindungan ketika pemain depan gagal mempertahankan penguasaan.

Merespons setelah Kebobolan

Gol pertama PSG langsung diikuti gol kedua hanya dua menit kemudian. City harus mampu menenangkan permainan dan mengatur ulang posisi setelah menerima pukulan.

Meningkatkan Efektivitas

Jumlah peluang City seharusnya dapat menghasilkan lebih dari dua gol. Para pemain selain Haaland harus memberikan kontribusi penyelesaian yang lebih baik.

Menghindari Awal Pertandingan yang Lambat

Manchester City baru menunjukkan intensitas terbaiknya setelah tertinggal tiga gol. Melawan tim sekuat PSG, keterlambatan tersebut hampir mustahil diperbaiki.

PSG Kembali Menjadi Favorit Juara

Kemenangan di Etihad memberikan pesan kuat kepada seluruh peserta Liga Champions. PSG tidak hanya mampu menang di kandang, tetapi juga dapat tampil dominan di markas salah satu klub terbaik Inggris.

Tim asuhan Luis Enrique mempunyai keseimbangan antara pemain muda, pemain berpengalaman, kreativitas, dan kecepatan.

Désiré Doué serta Maghnes Akliouche memberikan energi baru. Dembélé tetap menjadi ancaman utama, sedangkan Vitinha dan Zaïre-Emery membuat lini tengah PSG sulit dikendalikan.

Di lini belakang, Marquinhos memimpin pertahanan dengan dukungan Willian Pacho dan Nuno Mendes. Safonov juga melakukan sejumlah penyelamatan penting ketika City meningkatkan tekanan.

PSG masih mempunyai beberapa kelemahan, terutama ketika terlalu dalam bertahan pada babak kedua. Namun, kualitas serangan dan ketenangan mereka menunjukkan bahwa tim ini siap kembali melangkah jauh.